Lihat Semua Cerita
Cerita

Kronik StarCraft Ep. 28: Hari Saat Khala Menjadi Suara Musuh

Bab dalam kisah ini
  1. Bisikan Oblivion dan Kegelapan yang Mendekat
  2. Sumpah untuk Merebut Kembali Aiur
  3. Suara Kegelapan yang Merasuki Khala
  4. Saudara-saudara yang Jatuh dan Executor Bermata Merah
  5. Pedang Dark Templar yang Membelah Kegelapan
  6. Rantai yang Terputus oleh Nafas Terakhir
  7. Tekad yang Tumbuh dalam Keheningan
  8. Kebangkitan dan Pelarian Bahtera Kuno
  9. Dokumen Referensi

Ini adalah narasi penggemar yang ditulis ulang berdasarkan peristiwa dari karya aslinya. Emosi karakter, dialog, dan atmosfer adegan telah direkonstruksi, serta mencakup akhir cerita utama.

Bisikan Oblivion dan Kegelapan yang Mendekat

Ilustrasi rekonstruksi AI: Zeratul mengamati fasilitas pembiakan hibrida secara diam-diam di kuil Xel'naga yang berkabut.
Ilustrasi rekonstruksi AI: Zeratul mengamati fasilitas pembiakan hibrida secara diam-diam di kuil Xel'naga yang berkabut.

Di dalam jurang Void yang gelap, Zeratul sedang melacak pergerakan rahasia para Tal'darim dan Moebius Corps. Energi tidak menyenangkan yang dipancarkan oleh kuil kuno Xel'naga memperingatkan bahwa akhir alam semesta sudah dekat. Di tengah keheningan alam semesta yang dingin, ia menyatukan kepingan-kepingan kebenaran yang telah terlupakan selama ribuan tahun, satu demi satu.

Bisikan Oblivion melintas di benaknya, membuktikan bahwa kebangkitan Xel'naga yang jatuh, Amon, bukanlah sekadar ilusi belaka. Saat ia menemukan fasilitas penangkaran Hybrid yang tersembunyi di dalam kabut tebal, ketakutan yang tak terkendali membubung di dalam dada Zeratul. Pemandangan mengerikan dari sekian banyak Hybrid yang menggeliat untuk terbangun adalah pertanda bencana yang mengerikan.

Monster-monster mengerikan ini, yang diciptakan Amon dengan menggabungkan gen Protoss dan Zerg, adalah makhluk yang lahir hanya untuk kehancuran. Zeratul menyusup jauh ke dalam fasilitas tersebut sambil mempertahankan mode jubahnya, dan di sanalah ia akhirnya memahami sepenuhnya seluruh rencana besar Amon untuk memusnahkan semua kehidupan di alam semesta.

Urgensi untuk memberi tahu kaumnya tentang kebenaran mengerikan ini mempercepat langkah kakinya. Namun, ia tidak yakin apakah kaumnya, yang dibutakan oleh keinginan lama untuk merebut kembali Aiur, akan mendengarkan peringatannya. Meskipun demikian, ia memikul takdir berat untuk menyampaikan krisis kehancuran ini kepada Hierarch muda, Artanis.

Setelah menaiki Void Seeker, Zeratul menetapkan arah menuju lokasi di mana Golden Armada sedang berkumpul. Menatap cahaya bintang yang mengalir di luar jendela, ia teringat akan kesalahan-kesalahan masa lalu yang tak dapat diperbaiki dan banyak nyawa yang dikorbankan karenanya. Rasa bersalah itu selalu seperti belenggu dingin yang menggerogoti jiwanya.

Namun sekarang, tidak ada waktu untuk terjebak oleh bayang-bayang masa lalu. Kegelapan yang mendekat begitu besar dan luar biasa hingga mampu menelan tidak hanya Protoss, tetapi juga seluruh alam semesta. Zeratul memejamkan mata dan dengan tenang membisikkan nama pahlawan besar Tassadar, berdoa dengan sungguh-sungguh memohon kebijaksanaan dan keberanian untuk menanggung cobaan berat yang akan datang.

Getaran kapal yang menembus ruang warp tersalurkan sepenuhnya ke tubuhnya yang tua dan lelah. Meskipun tubuhnya terluka setelah melewati pertempuran yang tak terhitung jumlahnya, pikirannya terasah lebih tajam dari sebelumnya. Satu-satunya pikirannya adalah bahwa ia harus menghentikan Artanis sebelum bayang-bayang Amon menyelimuti Aiur.

Akhirnya, ketika keagungan Golden Armada yang masif tertangkap oleh sensor, Zeratul menghela napas dalam-dalam. Kapal-kapal kaumnya yang bersinar terang tampak megah dengan sendirinya, namun di mata Zeratul, mereka tampak seperti kawanan ngengat yang terbang menuju kehancuran mereka sendiri. Ia mencengkeram kemudi dengan erat dan terjun ke dalam pusaran takdir yang tak terhindarkan.

Sumpah untuk Merebut Kembali Aiur

Ilustrasi rekonstruksi AI: Zeratul tiba-tiba muncul di jembatan kapal induk untuk memperingatkan Artanis dan Selendis.
Ilustrasi rekonstruksi AI: Zeratul tiba-tiba muncul di jembatan kapal induk untuk memperingatkan Artanis dan Selendis.

Artanis berdiri di garis depan Golden Armada yang agung, kebanggaan dan harapan para Protoss. Di belakangnya, Templar yang tak terhitung jumlahnya berkumpul di bawah satu tujuan untuk merebut kembali kejayaan Aiur. Hasrat membara dan tekad bulat dari kaumnya yang tersalurkan melalui Khala membuat jantung Hierarch muda itu berdegup kencang.

Ia tahu lebih baik daripada siapa pun tentang rasa sakit di masa lalu yang harus ditanggung demi merebut kembali tanah air mereka yang hilang. Melalui telepati yang bergema di seluruh Templar, Artanis memuji misi mulia dan keberanian mereka yang tak tergoyahkan. Pidatonya adalah kekuatan dahsyat yang menyembuhkan dan menyatukan jiwa-jiwa Protoss yang terluka.

Di samping sang Hierarch, Executor Selendis yang paling tepercaya berdiri kokoh dengan ekspresi tegas. Tatapannya membara hanya untuk merebut kembali Aiur dan kebangkitan Protoss, siap untuk melompat ke dalam api neraka kapan saja jika Artanis memerintahkannya. Ikatan di antara keduanya bersinar semakin kuat di dalam Khala.

Pada saat itu, ruang di titik berkumpul terdistorsi, dan Zeratul tiba-tiba muncul dari kegelapan. Dengan kedatangan Dark Templar yang tidak diinginkan ini, ketidaknyamanan dan kewaspadaan menyebar dengan cepat di antara para Templar melalui Khala. Artanis terkejut oleh kemunculannya yang tiba-tiba, namun ia tidak bisa menyembunyikan emosi rumitnya terhadap sahabat lamanya itu.

Dengan suara mendesak, Zeratul memperingatkan bahwa Amon telah kembali, dan serangan ini adalah jebakan yang akan membawa mereka semua pada kehancuran. Ia menjelaskan keberadaan Hybrid dan rencana mengerikan Amon, memohon agar mereka segera menghentikan serangan dan menarik mundur pasukan mereka. Di matanya tersirat keputusasaan mendalam yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah menyaksikan akhir alam semesta.

Namun, Artanis tidak bisa sepenuhnya menerima peringatan tersebut. Begitu banyak kaumnya yang sudah dipersenjatai dengan hasrat untuk merebut kembali tanah air mereka, hanya menunggu perintah untuk menyerang. Membatalkan serangan sekarang adalah keputusan berbahaya yang akan menghancurkan harapan mereka dan menyebabkan perpecahan di antara para Templar. Tanggung jawab yang membebani pundak sang Hierarch teramat berat.

Selendis menganggap kata-kata Zeratul sebagai omong kosong yang menghasut dan dengan tegas mendesak agar ia segera ditahan. Sambil menahan Selendis, Artanis menegaskan kepada Zeratul bahwa pertempuran ini adalah perang suci di mana nasib Protoss dipertaruhkan, dan ia tidak akan mundur. Seruan tulus Zeratul pada akhirnya gagal menghentikan roda takdir yang besar.

Akhirnya, atas perintah Artanis, Golden Armada memulai kemajuan megah mereka menuju atmosfer Aiur. Ratusan kapal yang turun dengan menggambar jejak cahaya yang cemerlang tampak seperti cahaya keselamatan yang akan mengusir bayang-bayang tebal yang menyelimuti tanah air mereka yang hancur. Zeratul hanya bisa menyaksikan pawai kehancuran itu dengan hati yang putus asa.

Suara Kegelapan yang Merasuki Khala

Ilustrasi rekonstruksi AI: Artanis terhuyung-huyung kesakitan di Aiur saat korupsi Amon mulai menginvasi Khala.
Ilustrasi rekonstruksi AI: Artanis terhuyung-huyung kesakitan di Aiur saat korupsi Amon mulai menginvasi Khala.

Pasukan Protoss yang mendarat di permukaan Aiur meluncurkan daya tembak yang luar biasa melawan kawanan Zerg liar. Bilah psionik para Zealot membelah karapas tebal Zerg, dan pelacak partikel para Stalker tanpa henti mengubah musuh menjadi abu. Artanis sendiri mengayunkan pedangnya di garis depan, membangkitkan moral para Templar setinggi langit.

Pertempuran awal tampaknya mengalir menuju kemenangan telak bagi Golden Armada. Para Templar yang menginjakkan kaki di tanah air mereka yang hilang bertempur dengan lebih gagah berani dari sebelumnya, berbagi taktik mereka dengan sempurna melalui Khala dan meluncurkan serangan terkoordinasi tanpa kesalahan sedikit pun. Kegembiraan kemenangan tersalurkan dengan hangat ke setiap Protoss melalui jaringan Khala.

Namun, kegembiraan kemenangan itu teramat singkat dan sia-sia. Tiba-tiba, energi dingin dan asing mulai merembes dari bagian terdalam Khala. Itu bukan sekadar ketakutan biasa, melainkan kegelapan yang luar biasa dan tidak menyenangkan yang mengguncang inti keberadaan mereka. Artanis tersandung, merasakan tekanan mengerikan yang seketika membuat napasnya tercekat.

Kegelapan menelan seluruh Khala dalam sekejap, menjarah pikiran para Protoss tanpa ampun. Lagu Khala yang damai dan harmonis berubah menjadi hiruk-pikuk jeritan mengerikan dan keputusasaan. Di pusat kekacauan itu, suara kasar dan arogan dari Xel'naga yang jatuh, Amon, yang telah terlupakan selama ribuan tahun, bergema langsung di kepala setiap Templar.

Amon mengejek keangkuhan para Protoss yang mengkhianati pencipta mereka, menyatakan bahwa sekarang saatnya bagi mereka untuk membayar dosa-dosa mereka. Suaranya mengandung kebencian tanpa akhir dan hasrat akan kehancuran terhadap semua makhluk hidup di alam semesta. Pikiran luar biasa yang tersalurkan melalui Khala merobek pertahanan mental para Templar semudah merobek selembar kertas.

Artanis berjuang sekuat tenaga untuk menolak erosi mengerikan ini meskipun kepalanya terasa seperti mau pecah. Ia berteriak kepada kaumnya melalui Khala untuk memfokuskan pikiran mereka dan tidak menyerah pada kegelapan, namun suaranya terkubur oleh pikiran raksasa Amon dan lenyap tanpa bekas. Keputusasaan membekukan hatinya hingga dingin.

Pemandangan yang terbentang di depan mata Artanis saat ia melihat sekeliling adalah neraka itu sendiri. Para prajurit pemberani yang bertempur bersamanya beberapa detik yang lalu menjatuhkan senjata mereka ke tanah dan menggeliat kesakitan. Mata biru mereka perlahan kehilangan cahayanya, dan di tempatnya, cahaya merah mengerikan yang melambangkan kendali Amon mulai membara.

Hal yang paling mengerikan adalah kenyataan bahwa mereka tidak lagi bergerak atas kehendak mereka sendiri. Para Templar, yang telah direduksi menjadi boneka Amon, perlahan mengangkat kepala mereka dan mengarahkan senjata ke arah kaum mereka yang belum dikendalikan. Perang suci untuk merebut kembali Aiur seketika terjerumus ke dalam tragedi mengerikan dari pertikaian antarsaudara.

Saudara-saudara yang Jatuh dan Executor Bermata Merah

Ilustrasi rekonstruksi AI: Artanis berlutut dengan mata merah menyala, sepenuhnya dikendalikan oleh serangan mental Amon.
Ilustrasi rekonstruksi AI: Artanis berlutut dengan mata merah menyala, sepenuhnya dikendalikan oleh serangan mental Amon.

Di dalam pikiran Artanis, jeritan Executor Selendis yang paling setia bergema. Pikirannya yang tersalurkan melalui Khala telah sepenuhnya dirasuki oleh kehendak merah Amon, dan suaranya yang biasanya anggun serta tegas telah lenyap, berubah menjadi suara mekanis dan mengerikan milik Amon yang mengejek sang Hierarch.

Kengerian dari Selendis dan banyak kaumnya yang menjadi boneka Amon dan saling menyerang mengalir langsung ke otak Artanis melalui indra Khala. Artanis memegangi kepalanya, mencoba menahan guncangan mental yang mengerikan itu, tetapi saluran yang disebut Khala itu terbuka tanpa ampun.

Para Zealot di sekitarnya mulai bergerak sesuai kehendak Amon dengan mata merah yang berkilat, dan Artanis juga berlutut di bawah tekanan mental yang luar biasa itu. Amon menyerang bagian dalam diri Artanis secara langsung, menginjak-injak egonya, dan sang Hierarch perlahan kehilangan akal sehatnya di tengah kekacauan yang bercampur antara kesedihan karena gagal menyelamatkan kaumnya dan niat membunuh Amon.

Lebih buruk lagi, serangan mental Amon mulai menghantam bagian dalam diri Artanis secara langsung. Ketakutan dan keputusasaan dari banyak kaumnya yang mengalir melalui Khala, bersama dengan dominasi luar biasa Amon, terus-menerus menekan egonya. Artanis merasakan kehendaknya perlahan terkikis, diliputi oleh rasa tidak berdaya yang mengerikan.

Amon mengorek momen-momen paling menyakitkan dalam ingatan Artanis untuk mengejeknya. Jatuhnya Aiur, kematian kaumnya, dan keraguan atas banyak keputusan yang telah ia buat mengacaukan pikirannya. Keyakinan kokoh Artanis runtuh sia-sia seperti istana pasir di hadapan serangan mental licik Amon.

Saraf saraf yang membentang panjang di belakang kepalanya memancarkan rasa sakit yang membakar. Khala, yang pernah menjadi berkah terbesar dan simbol persatuan Protoss, kini telah menjadi rantai mengerikan yang membelenggu jiwa. Artanis merasakan energi gelap Amon yang mengalir melalui saraf sarafnya menyebar ke seluruh tubuhnya melalui pembuluh darahnya.

Dalam kesadaran yang semakin memudar, penglihatan Artanis mulai diwarnai merah. Anggota tubuhnya tidak lagi mematuhi perintahnya, dan dorongan kehancuran yang asing melonjak dari lubuk hatinya. Ia menyadari kenyataan mengerikan bahwa ia perlahan berubah menjadi monster Amon, tetapi tidak ada kekuatan yang tersisa di dalam dirinya untuk menghentikannya.

Tepat sebelum kegelapan total menelan pikirannya, Artanis sangat menyesali kebodohannya. Keputusannya untuk mengabaikan peringatan Zeratul dan dengan angkuh memaksakan perebutan kembali Aiur pada akhirnya telah membawa seluruh Protoss ke ambang kehancuran. Dalam keputusasaan yang mendalam, ia melepaskan untaian terakhir egonya dan jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar.

Pedang Dark Templar yang Membelah Kegelapan

Ilustrasi rekonstruksi AI: Zeratul menangkis serangan dari Artanis yang dikendalikan pikirannya di reruntuhan Aiur.
Ilustrasi rekonstruksi AI: Zeratul menangkis serangan dari Artanis yang dikendalikan pikirannya di reruntuhan Aiur.

Saat keputusasaan yang sempurna hendak menelan Artanis, kilatan cahaya hijau berkilat bersama dengan suara gesekan tajam yang membelah udara. Zeratul, yang diselimuti energi Void, muncul menembus kepungan para Zealot yang jatuh dan menangkis serangan mematikan yang terbang ke arah Artanis. Bersamaan dengan kedatangannya, udara di sekitarnya seolah membeku dingin.

Sebagai seorang Nerazim yang tidak terhubung dengan Khala, Zeratul sepenuhnya bebas dari kendali mental Amon yang mengerikan. Hanya mengandalkan kekuatan Void, ia bergerak seperti hantu di antara kaumnya yang bermata merah untuk mendekati Artanis. Di matanya tersirat tekad bulat untuk menyelamatkan sahabat lamanya dan tekad berat untuk mengakhiri tragedi ini.

Zeratul mencengkeram erat bahu Artanis yang terhuyung-huyung dan berteriak dengan putus asa. Ia berseru bahwa Khala telah sepenuhnya dikuasai oleh Amon, dan satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari belenggu mengerikan ini adalah dengan memotong saraf sarafnya. Suaranya terdengar jelas di telinga Artanis bahkan di tengah kebisingan kacau yang diciptakan oleh pikiran Amon.

Namun, Artanis sudah setengah jalan menyerah pada kendali Amon. Dengan wajah yang terdistorsi kesakitan, ia melepaskan raungan seperti binatang buas dan mengayunkan bilah psioniknya ke arah Zeratul. Tebasan pedangnya, yang diresapi dengan energi merah Amon, jauh lebih kasar dan merusak dari biasanya, dipenuhi dengan niat membunuh yang kejam terhadap Zeratul.

Zeratul menghindari serangan Artanis dengan selisih tipis dan mundur. Menyaksikan pemimpin muda yang paling ia sayangi berubah menjadi monster adalah rasa sakit yang seolah merobek-robek dada Zeratul. Namun, ia tidak punya waktu untuk tenggelam dalam kesedihan. Itu adalah momen hidup dan mati di mana satu kesalahan saja bisa menyebabkan kematian bagi mereka berdua.

Zeratul sangat menahan serangannya agar tidak sampai melukai Artanis secara fatal. Ia hanya fokus pada pertahanan dan penghindaran untuk menemukan celah sempurna guna memotong saraf saraf yang membentang panjang di belakang punggung Artanis. Stamina Dark Templar tua itu terkuras dengan cepat, tetapi konsentrasinya bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Dengan latar belakang reruntuhan kuno Aiur, duel tragis antara Hierarch muda yang memikul masa depan Protoss and pengasingan tua yang mencoba menebus dosa masa lalunya berlanjut. Setiap kali pedang mereka berbenturan, gelombang energi kuat yang terpancar menghancurkan puing-puing di sekitarnya menjadi berkeping-keping. Zeratul tidak pernah mundur bahkan di bawah tekanan hebat Artanis, terus mencari kesempatan.

Seiring berjalannya waktu, serangan Artanis menjadi lebih cepat dan lebih brutal, dan luka besar serta kecil bertambah di tubuh Zeratul. Amon menggunakan mulut Artanis untuk mengejek perjuangan sia-sia Zeratul, mencoba menggoyahkan pikirannya. Namun, dengan tekad kokoh yang tak tergoyahkan, Zeratul terus berseru kepada diri sejati Artanis yang tersembunyi di balik mata merahnya.

Rantai yang Terputus oleh Nafas Terakhir

Ilustrasi rekonstruksi AI — Zeratul mencoba menyelamatkan Artanis yang dikendalikan oleh Amon dengan memotong saraf sarafnya.
Ilustrasi rekonstruksi AI — Zeratul mencoba menyelamatkan Artanis yang dikendalikan oleh Amon dengan memotong saraf sarafnya.

Saat Artanis, yang sepenuhnya dikuasai oleh Amon, mengangkat kedua tangannya, atmosfer di sekitarnya merosot berat dan badai psionik yang kuat berkecamuk. Energi destruktif yang bercampur dengan petir merah mengalir ke arah Zeratul, menyapu puing-puing kuil kuno tanpa ampun. Zeratul mengerahkan kekuatan Void untuk menahan badai tersebut, tetapi pelindung tuanya sudah mencapai batasnya.

Zeratul menggunakan Blink untuk keluar dari pusat badai dan menyusup ke sisi Artanis. Dalam sekejap, ia melihat cahaya biru asli yang bergetar samar di dalam mata merah Artanis yang membara. Itu adalah sinyal penyelamatan terakhir yang dikirim oleh jiwa mulia Artanis, yang menolak hingga akhir bahkan di bawah penindasan mengerikan Amon.

Saat melihat cahaya kecil itu, Zeratul menyadari dengan jelas apa yang harus ia lakukan. Untuk mendekati Artanis yang berada dalam kondisi pertahanan sempurna dan memotong saraf sarafnya, diperlukan taruhan mematikan yang mempertaruhkan nyawanya sendiri. Tanpa ragu, Zeratul melepaskan posisi bertahannya dan melompat tanpa ragu ke dalam jangkauan serangan mematikan Artanis.

Gagal memahami niat Zeratul, Artanis secara instingtif menjulurkan bilah psioniknya ke depan. Bilah merah yang membara menembus pelindung dada Zeratul dan menusuk jauh ke dalam jantungnya. Rasa sakit yang mengerikan seolah merobek seluruh tubuh Zeratul, tetapi ia bahkan tidak mengerang, menatap lurus ke mata Artanis dan melangkah maju satu langkah lagi.

Merasakan tangan Artanis yang memegang pedang yang menembus dadanya bergetar sedikit, Zeratul memusatkan semua kekuatan hidup yang tersisa ke lengan kanannya. Warp blade miliknya yang membara dengan cahaya hijau membelah udara, menggambar lintasan yang tajam. Itu adalah serangan paling tepat dan penuh belas kasih di dunia, yang diluncurkan oleh Dark Templar tua itu dengan imbalan nyawanya sendiri.

Bersamaan dengan suara logam yang dingin, saraf saraf yang membentang panjang di belakang kepala Artanis terpotong rapi dan jatuh ke tanah. Pada saat itu, aura merah yang menyelimuti Artanis lenyap seperti tersapu bersih, dan cahaya biru jernih aslinya kembali ke matanya. Pengorbanan mulia Zeratul akhirnya memutuskan belenggu mengerikan Amon.

Tubuh Zeratul yang terluka parah jatuh tak berdaya ke tanah. Artanis melihat bergantian antara pedang berdarah di tangannya dan sosok mentornya yang jatuh, lalu melepaskan jeritan yang memilukan. Ia bergegas memeluk Zeratul dan mencoba menahan lukanya, tetapi kekuatan hidup Dark Templar tua itu sudah mengalir keluar secepat butiran pasir.

Zeratul mengangkat tangannya yang berlumuran darah untuk membelai pipi Artanis. Napasnya memudar, tetapi tatapannya terasa lebih tenang dan hangat dari sebelumnya. Ia meninggalkan wasiat terakhirnya kepada Artanis untuk menemukan harapan yang akan ditunjukkan oleh Keystone. Dan dengan senyum di wajahnya, ia memejamkan mata, memberikan titik akhir abadi pada perjalanan penebusan dosanya yang panjang dan melelahkan.

Tekad yang Tumbuh dalam Keheningan

Ilustrasi rekonstruksi AI: Artanis berlutut dalam duka saat tubuh Zeratul larut menjadi cahaya, sambil memegang pelindung lengannya.
Ilustrasi rekonstruksi AI: Artanis berlutut dalam duka saat tubuh Zeratul larut menjadi cahaya, sambil memegang pelindung lengannya.

Saat saraf sarafnya terputus, rasa sakit luar biasa yang seolah merobek seluruh tubuh Artanis mengalir di sepanjang tulang belakangnya. Namun, yang membuatnya lebih terkejut daripada rasa sakit fisik adalah kenyataan bahwa hubungan Khala, yang tidak pernah terputus sekali pun sejak ia lahir, telah lenyap sepenuhnya. Di kepalanya, di mana kehangatan dan harmoni dari miliaran kaumnya telah hilang, hanya menyisakan keheningan yang sangat dingin dan kosong.

Dalam kesepian yang luar biasa itu, Artanis menatap kosong pada tubuh Zeratul yang perlahan memudar di pelukannya. Tubuh Dark Templar yang agung itu berubah menjadi partikel cahaya yang menyilaukan dan tersebar di angin Aiur, hanya menyisakan pelindung lengan tua yang ia kenakan sepanjang hidupnya tergeletak di tanah. Jantung Artanis terasa hancur berkeping-keping oleh rasa bersalah dan kesedihan.

Keangkuhan dan kebodohannya sendiri pada akhirnya telah membawa Protoss ke ambang kehancuran, dan mendorong pahlawan terbesar menuju kematiannya. Artanis menatap kedua tangannya yang berlumuran darah dan melolong seperti binatang buas. Penyesalan mendalam bahwa kesombongan sia-sia untuk merebut kembali Aiur telah menyebabkan mereka berjalan sendiri ke dalam jebakan Amon mencabik-cabik jiwanya tanpa ampun.

Namun, bahkan waktu untuk meratap dalam keputusasaan adalah kemewahan baginya. Para Templar yang jatuh, yang sempat ragu sejenak karena pengorbanan Zeratul, sekali lagi mempersempit kepungan ke arahnya dengan mata merah yang berkilat. Niat membunuh yang bercampur dengan kemarahan Amon mencekik Artanis dari segala arah. Sambil menahan kesedihannya, ia memungut pelindung lengan Zeratul yang jatuh di tanah.

Saat sentuhan logam dingin tersalurkan melalui ujung jarinya, wasiat terakhir yang ditinggalkan Zeratul terngiang di telinganya. Suara tulus yang memintanya mencari harapan yang akan ditunjukkan oleh Keystone menjadi pilar kuat yang membangkitkan kembali pikiran Artanis yang runtuh. Ia bersumpah dengan teguh bahwa ia tidak akan membiarkan pengorbanan Zeratul sia-sia.

Artanis menyalakan bilah psioniknya bersamaan dengan warp blade yang ditinggalkan Zeratul. Cahaya menyilaukan yang dipancarkan oleh persilangan cahaya biru dan hijau seolah melambangkan penyatuan antara Khala dan Void. Ia mencengkeram kedua pedang itu dengan erat dan mengarahkan tatapan sedih namun bertekad bulat ke arah saudara-saudaranya yang jatuh yang berlari ke arahnya.

Meskipun harmoni Khala tidak lagi terdengar, bentuk kehendak baru membara di dalam diri Artanis. Itu adalah tekad dingin namun sengit untuk menyelamatkan kaumnya dan menghancurkan Amon. Ia dengan luwes menepis serangan para Zealot yang jatuh yang menghalangi jalannya, memulai terobosan putus asa demi bertahan hidup.

Artanis dengan lihai menghindari titik-titik vital kaumnya sambil menangkis senjata mereka dan melangkah maju. Rasa sakit karena harus menebas mereka yang pernah menjadi saudaranya sangat mengerikan, tetapi ia menggigit bibirnya erat-erat dan menelan air matanya. Satu-satunya penebusan dosa yang bisa ia lakukan sekarang adalah bertahan hidup dan membebaskan mereka dari kendali Amon di masa depan. Langkah kakinya mengarah ke bawah tanah Aiur yang dalam.

Kebangkitan dan Pelarian Bahtera Kuno

Ilustrasi rekonstruksi AI: Kapal bahtera kuno Tombak Adun bangkit dengan megah dari tempat suci bawah tanah Aiur.
Ilustrasi rekonstruksi AI: Kapal bahtera kuno Tombak Adun bangkit dengan megah dari tempat suci bawah tanah Aiur.

Artanis secara dramatis bergabung dengan Phase-Smith Karax, yang telah menghindari kendali Amon. Karax telah memotong saraf sarafnya sendiri untuk melarikan diri dari jangkauan Amon, dan bergerak dengan putus asa untuk membantu sang Hierarch membangunkan bahtera kuno, Spear of Adun.

Di bawah pengawalan para prajurit Nerazim, Artanis menuju ke tempat suci bawah tanah terdalam di Aiur. Di sana, Spear of Adun, sebuah bahtera kuno raksasa yang dibangun selama masa keemasan paling cemerlang dari Kekaisaran Protoss, tertidur lelap selama ribuan tahun. Itu adalah harapan terakhir dan kunci keselamatan yang ditinggalkan oleh para leluhur untuk bersiap menghadapi kiamat yang mungkin datang di masa depan yang jauh.

Saat mereka membuka gerbang besar tempat suci bawah tanah dan masuk, Spear of Adun yang berskala masif di luar imajinasi menunjukkan keagungannya yang megah. Artanis dan para penyintas sempat terpana oleh kemegahan kapal tersebut, namun suara tentara Amon yang mengejar mempercepat langkah mereka. Artanis dengan cepat bergerak ke jembatan, jantung kapal, dan berdiri di depan panel kendali utama.

Di bawah bimbingan teknis Karax yang rumit dan perlindungan tegas Artanis, matriks daya bahtera raksasa yang telah tertidur selama ribuan tahun akhirnya mulai diaktifkan kembali. Inti daya terbangun dengan getaran yang megah, menyalakan cahaya menyilaukan di seluruh kapal, dan Spear of Adun bangkit dari hibernasi panjangnya untuk terlahir kembali sebagai tempat perlindungan baru bagi Protoss.

Begitu sistem senjata dan perisai kapal diaktifkan, Artanis memerintahkan para prajurit Nerazim to mengevakuasi sebanyak mungkin penyintas yang tersebar ke dalam kapal. Meskipun para Templar yang jatuh dan kawanan Zerg di bawah kendali Amon mulai mengalir ke dalam tempat suci, daya tembak kuat yang dipancarkan dari Spear of Adun dengan putus asa menahan pendekatan mereka.

Setelah memastikan bahwa penyintas terakhir telah naik ke kapal, Artanis memerintahkan kapal untuk lepas landas. Spear of Adun membubung tinggi, menembus kerak bumi Aiur dengan gemuruh yang dahsyat. Pemandangan bahtera kuno yang telah terkubur selama ribuan tahun membubung ke langit, menyebarkan debu tanah dan pecahan batu, sungguh menakjubkan dan luar biasa dengan sendirinya.

Saat kapal menembus atmosfer dan memasuki luar angkasa, Artanis menatap Aiur yang menjauh di luar jendela besar jembatan. Pemandangan tanah airnya, yang sekali lagi jatuh ke dalam jurang keputusasaan karena diselimuti oleh aura merah Amon, mencabik-cabik hatinya. Namun, ia tidak lagi tenggelam dalam keputusasaan. Tatapannya bersinar dingin menuju balas dendam dan keselamatan yang akan datang.

Artanis mengelus pelindung lengan Zeratul yang terpasang di lengannya, membuat sumpah setia di dalam hatinya. Meskipun bayang-bayang Amon hendak menyelimuti seluruh alam semesta, api Protoss belum padam. Spear of Adun melaju membelah Void yang pekat, dan Artanis memimpin kaumnya yang tersisa untuk memulai perjalanan baru yang sulit demi menemukan Keystone yang disebutkan oleh Zeratul.

Dokumen Referensi

Kronik Resmi StarCraft Blizzard

Pengenalan Kampanye Resmi StarCraft II

Tanya Jawab Pengembang: Hubungan antara Karakter dan Perang

Unduhan Resmi StarCraft II dan Daftar Pembelian Kampanye/Nova

Bagikan dalam bahasa teman

komentar 0

Jadilah komentar pertama.

Komentar memakai nama anggota Anda. Masuk atau daftar

COMMUNITY NOTICE

Tidak dapat dipublikasikan

Konten memuat kata yang tidak diperbolehkan.

Edit konten dan coba lagi.

Masuk

Masuk

Lanjutkan dengan Google
atau email

Dukungan pelanggan

Sampaikan masalah atau pertanyaan Anda. Anda dapat mengirim tanpa masuk akun.

Nama, email, pesan, serta detail akun jika Anda masuk disimpan untuk menangani pertanyaan dan hanya dapat dilihat administrator. Pertanyaan memenuhi syarat untuk dihapus otomatis setelah 180 hari. Jangan sertakan kata sandi, nomor kartu, atau dokumen identitas. Pemberitahuan privasi

Cookie analitik opsional membantu memahami penggunaan situs. Menolaknya tidak memengaruhi login atau penjelajahan. Google mengelola persetujuan iklan secara terpisah.

Kebijakan privasi