Kronik Diablo Bagian 1: Kegelapan yang Dibuang Anu dari Dirinya
Bab dalam kisah ini
- Anu yang Awal dan Kemungkinan yang Saling Bertolak Belakang di Dalam Dirinya
- Kelahiran dan Pertentangan Tathamet Berkepala Tujuh
- Benturan Dua Entitas Mutlak dan Kehancuran Bersama
- Asal-usul Surga dan Neraka
- Kelahiran Malaikat dan Iblis
- Pandemonium dan Awal dari Konflik Abadi
- Perebutan Tanpa Akhir atas Batu Dunia
- Kelelahan yang Berulang dan Tunas Pemberontakan
- Dokumen Referensi
Ini adalah narasi penggemar yang ditulis ulang berdasarkan peristiwa dari karya aslinya. Emosi karakter, dialog, dan atmosfer adegan telah direkonstruksi, serta mencakup akhir cerita utama.
Anu yang Awal dan Kemungkinan yang Saling Bertolak Belakang di Dalam Dirinya

Di tengah-tengah jurang tak berdasar yang sunyi di mana tidak ada apa pun yang eksis, hanya ada sebutir mutiara raksasa yang bersinar dengan sempurna melayang dalam keheningan. Di ruang kosong purba itu, di mana waktu bahkan tidak mengalir, mutiara tersebut berdenyut lembut dengan sendirinya, mendekap semua kemungkinan alam semesta di dalam dirinya. Itu adalah Anu, asal mula segala sesuatu sekaligus satu-satunya entitas mutlak.
Berbeda dengan penampilannya yang luar biasa, bagian dalam Anu sama sekali tidak tenang. Di dalamnya, cahaya yang menyilaukan dan kegelapan yang pekat, kegembiraan dan kesedihan, hasrat untuk mencipta dan naluri untuk menghancurkan, semuanya saling menjalin dan berputar dengan dahsyat. Dalam kekacauan purba di mana konsep baik dan jahat bahkan masih samar, Anu harus terus-menerus mengalami gelombang emosi yang saling bertolak belakang di sekujur tubuhnya.
Kehendak Anu yang mendambakan kesempurnaan mutlak menjadi semakin jelas seiring berjalannya waktu. Dia tidak bisa lagi menahan ketidakselarasan yang bergejolak di dalam dirinya, dan sangat ingin mencapai keadaan cahaya mutlak yang murni tanpa cacat. Itu adalah awal dari refleksi diri yang menyakitkan yang mengikis dirinya sendiri, sekaligus pertanda dari keputusan mengerikan yang akan mengubah alam semesta selamanya.
Anu menatap ke dalam lubuk jiwanya yang paling dalam dan mulai memilah satu demi satu semua energi negatif yang mengeruhkan cahaya murninya. Emosi-emosi gelap seperti kebencian, ketakutan, kehancuran, dan keputusasaan dipaksa menyatu di satu tempat oleh kehendaknya yang kuat. Di dalam mutiara itu, dua pusaran raksasa saling mendorong dengan sengit, bersiap untuk memisahkan diri.
Satu-satunya standar yang memisahkan kebaikan dan kejahatan adalah kerinduan mutlak Anu. Dia tanpa ampun mendorong semua ketidakmurnian yang bertentangan dengan kesempurnaan yang dia bayangkan ke pinggiran jiwanya. Dalam prosesnya, retakan halus muncul di permukaan mutiara yang mulus, dan keheningan purba dipenuhi dengan getaran yang seolah merobek segalanya. Erangan kesakitan Anu mengguncang kesunyian jurang maut.
Kegelapan yang tertekan menggeliat dan melawan dengan sengit untuk melepaskan diri dari kendali Anu. Itu bukan sekadar ampas, melainkan separuh dari diri Anu dan kekuatan fundamental lain dari alam semesta. Semakin kegelapan itu memadat, ego yang aneh namun kuat mulai terbentuk di dalamnya, dan Anu merasakan getaran tidak menyenangkan itu di sekujur tubuhnya saat dia mendorongnya keluar dengan lebih kuat.
Akhirnya, suara retakan dahsyat yang melampaui titik kritis meledak dari dalam diri Anu. Obsesinya yang luar biasa terhadap kesempurnaan berujung pada robeknya jiwanya sendiri menjadi dua bagian secara tragis. Pilar cahaya yang menyilaukan dan badai kegelapan yang pekat menembus cangkang keras mutiara, tumpah dengan liar ke dalam jurang kosong purba dan menggetarkan alam semesta.
Anu akhirnya menjadi kristal cahaya murni yang sangat dia dambakan, tetapi harganya teramat mengerikan. Kegelapan yang dia pisahkan secara paksa tidak pernah lenyap, melainkan meringkuk di sudut jurang maut dan mulai mengambil wujud baru. Gumpalan raksasa yang menyatukan semua niat jahat dan kebencian yang dibuang oleh Anu kini mulai memamerkan taringnya yang lapar ke arahnya.
Kelahiran dan Pertentangan Tathamet Berkepala Tujuh

Gumpalan kegelapan yang terlempar keras ke dalam jurang maut mulai membentuk tubuhnya sendiri sambil menjerit mengerikan. Di tengah kilatan petir sewarna darah, gumpalan itu perlahan berubah menjadi sosok mengerikan dengan sisik raksasa dan duri-duri tajam. Itu adalah Tathamet, perwujudan dari seluruh emosi negatif yang dibuang oleh Anu sekaligus inkarnasi kejahatan pamungkas.
Di atas tubuh raksasa Tathamet, tujuh kepala mengerikan muncul satu demi satu, melengkapi wujudnya yang aneh. Masing-masing kepala melambangkan sisi tergelap Anu, termasuk kebencian, ketakutan, dan kehancuran, sambil melontarkan raungan yang ganas. Racun dan api yang menyembur dari ketujuh mulutnya seketika memenuhi ruang kosong purba dengan bau busuk yang menyengat.
Anu, yang tersisa sebagai cahaya murni, menyaksikan dalam diam bagaimana separuh dirinya berubah menjadi monster yang mengerikan. Tidak ada lagi rasa takut atau kesedihan yang tersisa di dalam dirinya, tetapi rasa tanggung jawab yang berat atas hasil bencana yang dia ciptakan sendiri terpancar keluar dalam bentuk gelombang cahaya. Kedua entitas mutlak itu saling menatap, merasakan takdir yang tak terhindarkan.
Tujuh pasang mata Tathamet menyala dengan kebencian yang membara dan niat membunuh yang ditujukan hanya kepada Anu. Keinginan untuk membalas dendam pada Anu, yang telah memperlakukannya sebagai ketidakmurnian lalu merobek dan membuangnya tanpa ampun, adalah satu-satunya alasan keberadaan Tathamet. Ketujuh kepalanya meraung mengerikan secara bersamaan, menghancurkan keheningan jurang maut berkeping-keping, dan suaranya bergema hingga ke ujung alam semesta.
Anu pun menanggapi dengan tegas, meledakkan energi cahaya yang menyilaukan ke arah Tathamet. Bagi Anu yang mengejar kesempurnaan, Tathamet adalah noda alam semesta sekaligus ancaman mematikan yang harus dimusnahkan. Ruang purba kini ditarik kencang oleh ketegangan yang menyesakkan napas, menjelang benturan total antara kedua entitas mutlak tersebut.
Tathamet menyerang lebih dulu, mengepakkan sayap raksasanya dan menerjang Anu dengan ganas. Api hitam pekat yang menyembur dari ketujuh mulutnya secara bersamaan menerpa dengan hebat, seolah hendak menelan cahaya Anu dalam sekejap. Tanpa goyah, Anu membentangkan tirai cahaya raksasa untuk menghalau api tersebut, lalu menempa tombak cahaya yang tajam dan melemparkannya seperti kilat ke arah jantung Tathamet.
Saat cahaya murni dan kegelapan mutlak bertabrakan secara langsung, seluruh jurang maut bergejolak dan menjerit seolah-olah terkoyak. Benturan kedua entitas ini bukan sekadar pertarungan biasa, melainkan ledakan kontradiksi raksasa di mana hukum-hukum fundamental alam semesta saling berbenturan. Ketika cahaya Anu membakar sisik Tathamet, racun Tathamet mengikis cahaya Anu, menciptakan perlawanan yang seimbang dan sengit.
Kedua belahan yang terpisah itu mengerahkan seluruh kekuatan mereka tanpa sisa untuk saling menghancurkan sepenuhnya. Pertempuran sengit mereka terus berlanjut tanpa henti selama berabad-abad di dalam jurang maut yang bahkan tidak mengenal konsep waktu. Anu dan Tathamet tidak pernah menghentikan serangan mereka, dan serpihan cahaya serta kegelapan yang mengalir dari luka-luka mereka mulai menghiasi ruang angkasa dengan kacau.
Benturan Dua Entitas Mutlak dan Kehancuran Bersama

Pertarungan hidup-mati antara Anu dan Tathamet yang berlangsung selama berabad-abad menciptakan pusaran kehancuran yang seolah mencabik-cabik seluruh jurang maut. Setiap kali tombak cahaya menembus tirai kegelapan, dan cakar hitam mencakar energi putih bersih, gelombang kejut yang tak terbayangkan menyebar ke alam semesta. Kekuatan kedua entitas mutlak itu tidak berkurang sedikit pun, mempertahankan keseimbangan yang membawa kehancuran.
Ketujuh kepala Tathamet dengan licik mengincar celah Anu dari berbagai arah, melancarkan serangan gencar tanpa memberi ruang untuk bernapas. Taring beracun kebencian meredupkan cahaya Anu, dan api kehancuran melelehkan perisainya tanpa ampun. Di tengah badai niat jahat yang terus-menerus menerpa, Anu dengan tenang memancarkan gelombang cahaya dan menebas kepala-kepala Tathamet satu demi satu.
Semakin lama pertarungan berlangsung, tubuh raksasa kedua entitas itu menjadi semakin hancur dan mengenaskan. Wujud cahaya Anu yang semula sempurna kini pecah dan retak dalam di berbagai tempat, sementara sisik raksasa Tathamet terkoyak tanpa ampun dan darah hitam pekat menyembur seperti air mancur. Namun, mereka bahkan melupakan rasa sakit dan hanya terobsesi secara fanatik pada satu tujuan tunggal: memusnahkan lawan.
Ruang kosong di jurang maut dipenuhi tanpa celah oleh sisa-sisa energi raksasa yang mereka pancarkan. Lautan kekacauan yang mendidih, tempat cahaya dan kegelapan saling menjalin dengan aneh, menjadi medan perang mereka yang mengerikan. Anu mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya dari dasar jiwanya untuk mempersiapkan serangan terakhir yang paling menyilaukan dan merusak. Tathamet pun memadatkan seluruh niat jahat dari ketujuh kepalanya ke satu titik.
Akhirnya, kedua entitas itu secara bersamaan melepaskan serangan mematikan yang mempertaruhkan nasib alam semesta ke arah jantung satu sama lain. Berkas cahaya putih bersih milik Anu yang raksasa dan bola kegelapan pekat milik Tathamet bertabrakan secara langsung di tengah-tengah jurang maut tanpa bisa dihindari. Pada saat itu, keheningan aneh seolah-olah semua suara di alam semesta lenyap seketika menguasai ruang tersebut dalam sekejap mata.
Kemudian, ledakan raksasa yang melampaui imajinasi menelan jurang maut tersebut. Energi yang dilepaskan saat cahaya dan kegelapan ekstrem menyatu seketika menghancurkan tubuh Anu dan Tathamet berkeping-keping. Kedua entitas mutlak itu tanpa sempat meneriakkan jeritan kematian sekalipun, menguap sepenuhnya tanpa bekas di dalam cahaya kehancuran dahsyat yang mereka ciptakan sendiri, lalu tersebar menjadi debu kosmis.
Dampak mengerikan dari ledakan itu menyapu liar dari ujung ke ujung jurang maut, menaburkan benih-benih alam semesta baru secara acak di ruang kosong tersebut. Meskipun dua ego raksasa bernama Anu dan Tathamet telah lenyap selamanya, esensi cahaya dan kegelapan yang membentuk mereka menjadi serpihan tak terhitung jumlahnya yang tersebar ke segala arah. Itu adalah akhir dari segalanya, sekaligus awal sejati dari seluruh penciptaan.
Badai energi yang dahsyat perlahan mereda, dan sisa-sisa raksasa dari cahaya serta kegelapan melayang di ruang angkasa, perlahan mulai menetap pada tempatnya. Jejak-jejak raksasa yang ditinggalkan oleh benturan antara kebaikan mutlak dan kejahatan mutlak ini segera bersiap untuk melahirkan bentuk-bentuk dunia dan makhluk hidup yang baru. Mutiara purba telah pecah, tetapi tirai alam semesta yang agung akhirnya terbuka.
Asal-usul Surga dan Neraka

Tulang belakang Anu, yang bersinar paling terang di pusat ledakan, membubung ke tempat tertinggi di alam semesta dan mengeras menjadi struktur cahaya raksasa. Struktur yang memancarkan cahaya transparan dan jernih itu menjadi 'Lengkungan Kristal' (Crystal Arch) suci yang membentang tanpa batas. Lengkungan Kristal adalah jantung yang terus-menerus memancarkan kehendak murni Anu dan gelombang harmoni ke seluruh penjuru alam semesta.
Berpusat pada Lengkungan Kristal, sisa-sisa serpihan cahaya Anu berkumpul dalam pusaran dan mulai membentuk dunia yang megah dan indah. Tempat di mana awan perak membentuk lautan` dan menara-menara yang bersinar menyilaukan menjulang tinggi itu adalah 'Surga Tinggi' (High Heavens). Surga Tinggi adalah kristalisasi pamungkas dari ketertiban sempurna dan murni yang sangat didambakan Anu, sekaligus tempat perlindungan bagi cahaya.
Di sisi lian, jasad raksasa Tathamet yang membusuk jatuh tanpa henti ke dasar alam semesta yang paling dalam dan gelap. Sisa-sisa tubuhnya yang mengerikan, tempat darah hitam dan racun pekat mendidih, memancarkan panas yang mengerikan dan mengeras menjadi daratan yang aneh. Daging Tathamet yang robek dan tulang-tulangnya yang patah menjadi fondasi kokoh bagi dunia mengerikan tempat belerang membara dan lava berputar, yaitu 'Neraka Membara' (Burning Hells).
Neraka Membara, yang bertolak belakang dengan Surga, dipenuhi tanpa celah oleh energi kekacauan, penderitaan, dan kehancuran yang tiada akhir. Abu vulkanik yang menyengat beterbangan di atas sungai tempat darah busuk Tathamet mengalir, dan organ-organ tubuhnya yang robek berubah menjadi gua-gua mengerikan tempat monster-monster mengerikan bersarang. Neraka adalah tungku peleburan mengerikan tempat kebencian dan niat jahat yang ditinggalkan Tathamet berkobar selamanya.
Surga dan Neraka, yang terletak di dua kutub ekstrem alam semesta, menyadari keberadaan satu sama lain dengan jelas sejak saat mereka tercipta, menciptakan pertentangan yang tajam. Cahaya harmoni yang terpancar dari koridor kristal berusaha menekan dan memurnikan kegelapan Neraka, sementara api kekacauan yang melonjak dari Neraka berkobar dengan dahsyat untuk menelan ketertiban Surga. Kedua dunia ini ditakdirkan untuk tidak pernah bisa berdampingan sejak awal mula mereka.
Menara-menara perak Surga bergetar lembut selaras dengan resonansi suci Lengkungan Kristal, memperkuat energi cahaya ke alam semesta. Cahaya itu berusaha mendorong kegelapan alam semesta dan terus memperluas wilayah ketertiban. Setiap struktur di Surga menyimpan kerinduan Anu akan kesempurnaan, memamerkan keindahan luar biasa tanpa cacat sedikit pun.
Di jurang terdalam Neraka, dendam mengerikan Tathamet terus bergegolak, melahirkan mimpi buruk baru tanpa henti. Di dalam lubang lava yang mendidih, energi iblis dalam wujud yang aneh menyatu dan menggeliat mengerikan. Seluruh lingkungan Neraka seolah dirancang hanya untuk memaksimalkan kehancuran dan penderitaan, memancarkan panas yang menyesakkan dan bau busuk yang menyengat saat ia berekspansi.
Meskipun tubuh Anu dan Tathamet telah menjadi dunia yang raksasa, kehendak fundamental mereka belum sepenuhnya tertidur. Cahaya Surga dan kegelapan Neraka perlahan memperluas pengaruh mereka ke arah pusat alam semesta, mulai mencekik leher satu sama lain. Itu adalah awal dari perang tak berkesudahan yang ditinggalkan oleh para pencipta, sekaligus panggung takdir kejam yang harus dipikul oleh makhluk-makhluk ciptaan baru.
Kelahiran Malaikat dan Iblis

Di dalam cahaya menyilaukan dari Lengkungan Kristal, gelombang-gelombang halus menyatu dan mulai mengambil wujud yang suci. Energi spiritual yang membentang dari jantung cahaya melahirkan entitas-entitas yang selaras sempurna dengan sayap-sayap seperti tentakel cahaya, yaitu para malaikat. Mereka menjadikan kebajikan murni Anu dan kehendak kuat untuk melindungi ketertiban alam semesta sebagai sifat mutlak mereka.
Di antara mereka, entitas yang lahir dengan mendekap cahaya terkuat dan termurni adalah para Malaikat Agung yang membentuk Dewan Angiris. Mewarisi sifat-sifat paling mulia Anu—Keadilan, Harapan, Kebijaksanaan, Takdir, dan Keberanian—mereka menjadi pemimpin mutlak yang menjaga dan memandu ketertiban Surga. Cahaya yang terpancar dari sayap para Malaikat Agung mewarnai seluruh Surga dengan kesucian.
Pada saat yang sama, di jurang terdalam Neraka Membara, makhluk-makhluk mengerikan sedang dikandung dari tujuh kepala Tathamet yang terputus. Di tengah daging yang membusuk dan racun yang mendidih, tujuh penguasa iblis yang mewarisi niat jahat termurni Tathamet menembus api Neraka yang dahsyat dengan jeritan yang memekakkan telinga, menampakkan wujud mereka yang mengerikan.
Dari tiga kepala raksasa Tathamet, lahirlah tiga Iblis Agung mengerikan yang melambangkan Kebencian, Ketakutan, dan Kehancuran. Sebagai penguasa terkuat di Neraka, setiap kali mereka bernapas, ruang di sekitarnya tercemar parah oleh energi keputusasaan dan kematian. Mata merah para Iblis Agung berkilat dengan permusuhan tanpa akhir dan kelaparan yang kejam terhadap Surga.
Dari empat kepala sisanya, lahirlah empat Iblis Minor yang melambangkan Penderitaan, Kebohongan, Dosa, dan Kebejatan secara berurutan. Mereka memiliki kelicikan dan kekejaman yang tidak kalah dari para Iblis Agung, membangun wilayah mereka sendiri di tengah kekacauan Neraka dan mulai membesarkan legiun iblis yang tak terhitung jumlahnya. Ketujuh penguasa iblis ini adalah rasul kehancuran yang akan membalaskan dendam Tathamet.
Sejak saat mereka dilahirkan, para malaikat bergerak serempak dengan kehendak yang menyatu, selaras dengan melodi harmonis dari Crystal Arch. Mereka lebih mengutamakan tatanan dan tujuan mulia dari seluruh Surga dibandingkan hasrat pribadi, serta membentuk pasukan cahaya yang sempurna tanpa sedikit pun kekacauan. Zirah dan tombak para malaikat yang berkilau memancarkan cahaya dingin dengan tekad yang bulat untuk menghakimi kejahatan.
Sebaliknya, para iblis adalah makhluk kekacauan yang saling membenci dan terus-menerus mencurigai satu sama lain sejak lahir. Ketujuh penguasa iblis melakukan pertarungan rahasia yang kejam, saling menggigit dan menipu setiap kali ada kesempatan demi merebut kekuasaan tertinggi di Neraka. Namun, di hadapan musuh bersama yaitu Surga, naluri destruktif mereka siap bersatu untuk menghasilkan sinergi mengerikan yang melampaui imajinasi.
Para malaikat yang mewarisi kebajikan mulia Anu, dan para iblis yang mewarisi niat jahat murni Tathamet. Kedua ras merasakan permusuhan sengit yang terukir jauh di dalam tulang mereka sejak saat mereka mendeteksi keberadaan satu sama lain di ruang angkasa. Itu bukan sekadar perjuangan untuk bertahan hidup, melainkan tarikan takdir yang tak terhindarkan di mana atribut fundamental alam semesta—cahaya dan kegelapan—berbenturan secara langsung.
Pandemonium dan Awal dari Konflik Abadi

Di pusat alam semesta, di mana energi Surga dan Neraka bertabrakan secara langsung dan mendidih, ada sebuah tempat yang berdiri seperti luka raksasa di wilayah kekacauan. Tempat itu adalah 'Pandemonium', sebuah ruang aneh di mana segala sesuatu terus-menerus berputar dan berubah. Dan di pusatnya, 'Batu Dunia' (Worldstone), yang merupakan mata Anu sekaligus jantung alam semesta, melayang di udara memancarkan cahaya yang cemerlang namun tidak menyenangkan.
Merasakan energi kuat yang melampaui imajinasi dari Batu Dunia, para malaikat dan iblis berbondong-bondong menuju Pandemonium seperti kawanan awan. Legiun malaikat yang turun sambil mengepakkan sayap cahaya mereka, dan legiun iblis yang melonjak sambil menyemburkan api Neraka, bertabrakan untuk pertama kalinya di sekitar Batu Dunia. Itulah awal mengerikan dari 'Konflik Abadi' yang menodai sejarah alam semesta dengan darah tanpa akhir.
Tanah tandus Pandemonium berguncang seolah hendak robek oleh suara gemuruh benturan antara tombak bercahaya para malaikat dan cakar hitam para iblis. Ketika api suci yang dipancarkan para Malaikat Agung seketika mengubah kawanan iblis menjadi abu, sihir mengerikan para Iblis Agung mematahkan sayap para malaikat dan merusak mereka dengan keji. Medan perang dinodai oleh kematian dan kehancuran yang tak terhitung jumlahnya bahkan dalam sekejap mata.
Jalannya perang berlangsung sangat seimbang hingga tingkat yang mengerikan. Ketika para malaikat merebut Batu Dunia dan mendirikan benteng cahaya raksasa di sekitarnya, para iblis meruntuhkan benteng tersebut dengan jumlah pasukan yang tak terbatas serta jebakan yang licik, lalu mengubahnya menjadi kastil Neraka. Pos pertahanan yang disebut 'Benteng Pandemonium' itu terus berubah wujud secara aneh antara cahaya dan kegelapan setiap kali pemiliknya berganti.
Para malaikat sangat membenci kekacauan para iblis dan berusaha memurnikan mereka sepenuhnya dari alam semesta, sementara para iblis mengejek ketertiban para malaikat dan mengamuk untuk menelan segalanya dengan api Neraka. Tidak ada sedikit pun kompromi atau belas kasihan dalam pertempuran sengit mereka. Mereka sangat percaya bahwa hanya kehancuran total pihak lawan yang menjadi satu-satunya cara untuk mengakhiri konflik mengerikan ini.
Di udara abu-abu Pandemonium, bulu-bulu sayap malaikat yang robek dan bersinar serta darah hitam busuk para iblis tercurah seperti hujan yang mengerikan. Energi para malaikat yang gugur kembali ke Lengkungan Kristal untuk dikandung sebagai malaikat baru, sementara esensi iblis yang mati jatuh ke jurang Neraka untuk bangkit kembali sebagai monster mengerikan. Bahkan kematian pun tidak bisa menjadi akhir dari perang yang kejam ini.
Selama ribuan bahkan puluhan ribu tahun berlalu, Benteng Pandemonium menyambut dan melepas pemilik yang tak terhitung jumlahnya secara tragis. Pemandangan runtuhnya dinding cahaya dan munculnya duri-duri berdarah kini menjadi pemandangan sehari-hari di Pandemonium. Garis depan terus maju dan mundur, tetapi tidak ada pihak yang berhasil meraih kemenangan menentukan untuk mengendalikan Batu Dunia sepenuhnya, sehingga mereka terjebak dalam jalan buntu.
Meskipun serbuan berani para Malaikat Agung dan siasat licik para Iblis Agung tak terhitung banyaknya saling bersilangan di medan perang, timbangan Konflik Abadi selalu bergejolak sambil mempertahankan keseimbangan yang kejam. Pembantaian yang sia-sia dan mengerikan di pusat alam semesta ini perlahan-lahan mencekik leher kedua ras, seperti belenggu mengerikan di mana pertarungan hidup-mati purba antara Anu dan Tathamet seolah berulang selamanya.
Perebutan Tanpa Akhir atas Batu Dunia

Hanya ada satu alasan mengapa malaikat dan iblis menumpahkan darah dengan begitu sengit: kekuatan penciptaan yang tak terbayangkan yang dimiliki oleh Batu Dunia. Batu Dunia, yang dulunya merupakan mata Anu, bukan sekadar permata raksasa yang memancarkan energi, melainkan alat pamungkas alam semesta yang dapat memanipulasi hukum realitas sesuka hati dan membentuk dimensi yang sepenuhnya baru.
Para Malaikat Agung ingin mengendalikan sepenuhnya kekuatan Batu Dunia untuk menjadikan seluruh alam semesta sebagai Surga kedua yang dipenuhi dengan ketertiban dan cahaya yang sempurna. Mereka memimpikan ritual pemurnian pamungkas yang dapat menyelaraskan gelombang Batu Dunia secara sempurna dengan Lengkungan Kristal, menyegel kekacauan Neraka selamanya, dan memusnahkan semua entitas iblis. Mereka sangat percaya bahwa hanya itulah kedamaian sejati.
Sebaliknya, para Iblis Agung bersekongkol untuk merusak Batu Dunia guna mengubah alam semesta menjadi Neraka raksasa yang dipenuhi penderitaan dan kehancuran tanpa akhir. Mereka menyusun rencana kejam untuk memutarbalikkan kekuatan penciptaan Batu Dunia demi membentuk dunia mimpi buruk yang mengerikan dan tak terbayangkan, lalu menumpahkan legiun iblis tanpa batas dari sana untuk menginjak-injak seluruh menara perak Surga.
Siapa pun yang mengendalikan Batu Dunia secara sempurna sama saja dengan menjadi dewa mutlak yang menentukan nasib alam semesta. Oleh karena itu, tidak ada pihak yang bisa melepaskan Batu Dunia, dan bahkan jika mereka tidak bisa memilikinya, mereka harus mempertaruhkan nyawa untuk mencegahnya jatuh ke tangan musuh. Batu Dunia itu sendiri adalah kutukan paling mengerikan yang membuat Konflik Abadi tidak pernah bisa dihentikan.
Di depan Batu Dunia yang disemayamkan di pusat Benteng Pandemonium, pertempuran paling tragis dan kejam terus terjadi tanpa henti setiap hari. Permukaan mulus Batu Dunia ternoda oleh sihir suci para malaikat dan darah terkutuk para iblis, memancarkan cahaya aneh yang berkedip-kedip. Terkadang gelombang cahaya, dan terkadang tirai kegelapan menyelimuti Batu Dunia, tetapi tidak ada kemenangan yang pernah abadi.
Batu Dunia menyaksikan semua kekejaman mengerikan itu dalam diam tanpa suara. Meskipun kehendak Anu bersemayam di dalamnya, Batu Dunia itu sendiri adalah kristalisasi raksasa dari kekuatan netral yang tidak membedakan kebaikan dan kejahatan dengan sendirinya. Ia berdenyut di jantung Pandemonium, mendekap kemungkinan tak terbatas untuk menjadi alat cahaya atau senjata kegelapan, tergantung pada kehendak pemiliknya.
Para Malaikat Agung dan Iblis Agung terus-menerus meneliti dan mencoba memberikan sihir yang kuat untuk menarik keluar kekuatan Batu Dunia sepenuhnya. Namun, di tengah kekacauan perang, waktu untuk fokus sepenuhnya pada Batu Dunia selalu sangat kurang. Sebelum ritual sihir sempat diselesaikan, serangan mendadak musuh sudah datang menyerbu, dan area di sekitar Batu Dunia kembali berubah menjadi ladang pembantaian yang berlumuran darah.
Cahaya cemerlang Batu Dunia adalah harapan mutlak akan keselamatan sekaligus ketakutan mengerikan akan kehancuran bagi malaikat maupun iblis. Di dalam tatapan kedua kubu yang memandangnya, obsesi gila dan ketakutan yang mendalam bercampur aduk dengan rumit. Keangkuhan mereka untuk memonopoli kekuatan fundamental alam semesta pada akhirnya mengubah Pandemonium menjadi rawa darah yang tidak pernah kering selamanya.
Kelelahan yang Berulang dan Tunas Pemberontakan

Jutaan tahun, atau bahkan lebih, waktu mengerikan yang mendekati keabadian telah berlalu. Malaikat yang tak terhitung jumlahnya kehilangan sayap mereka dan jatuh dengan mengenaskan, sementara iblis yang tak terbilang banyaknya tercabik-cabik di dalam api. Namun, situasi perang tidak maju bahkan satu langkah pun. Hanya roda pembantaian tanpa akhir dan pertempuran tanpa kemenangan yang terus berputar tanpa ampun.
Kenyataan putus asa di mana kematian bahkan tidak bisa menjadi tempat peristirahatan memberikan rasa lelah mengerikan yang merasuk hingga ke dalam tulang bagi kedua ras. Cahaya para malaikat yang terlahir kembali dari Lengkungan Kristal tidak lagi menyilaukan seperti dulu, dan raungan para iblis yang bangkit kembali di Neraka bercampur dengan kelelahan yang tumpul alih-alih kemarahan sengit di masa lalu. Konflik Abadi perlahan-lahan mengikis bahkan jiwa abadi mereka.
Mereka yang menatap kosong ke arah cahaya Batu Dunia dari atas dinding Benteng Pandemonium mulai bermunculan secara diam-diam di kedua kubu. Mereka menatap ke bawah pada mayat mengerikan musuh yang baru saja menodongkan pedang ke leher mereka beberapa saat lalu, menyimpan pertanyaan mendalam tentang apa yang sebenarnya tersisa di akhir kebencian yang sia-sia ini. Baik ketertiban maupun kekacauan, tidak ada tujuan agung yang bisa membenarkan penderitaan tanpa akhir ini lagi.
Retakan halus yang selama ini tertutup oleh kepatuhan buta dan naluri destruktif perlahan menyebar secara diam-diam di dalam kedua kubu. Beberapa malaikat merasa kecewa dengan kekerasan tanpa akhir yang dilakukan atas nama ketertiban yang sempurna, sementara beberapa iblis bergidik ngeri menghadapi kehampaan abadi yang dibawa oleh kehancuran buta. Untuk pertama kalinya, mereka mulai meragukan belenggu takdir yang dipasangkan oleh pencipta mereka, Anu dan Tathamet.
Ada kalanya tatapan mata malaikat dan iblis, yang saling mengadu senjata dan terengah-engah di tengah medan perang, saling bersilangan dalam sekejap mata. Di dalam tatapan singkat itu, tersimpan kerinduan mendalam untuk melarikan diri selamanya dari neraka dunia yang memuakkan ini, tidak kalah besar dari rasa benci mereka satu sama lain. Meskipun mereka adalah musuh, mereka samar-samar menyadari bahwa mereka berdua sedang ditindih oleh beban penderitaan yang sama.
Bahkan takdir kosmis yang megah seperti pertentangan antara cahaya dan kegelapan perlahan kehilangan cahayanya di hadapan kematian sia-sia yang berulang selamanya. Para Malaikat Agung dan Iblis Agung masih menyerukan kemenangan dan mendorong pasukan mereka ke dalam maut, tetapi langkah kaki para prajurit yang mengikuti perintah mereka terasa seberat ribuan ton. Udara keruh Pandemonium dipenuhi dengan kehampaan yang pekat dan keputusasaan yang tertekan.
Seseorang mulai bermimpi secara rahasia untuk meninggalkan medan perang yang berlumuran darah ini sepenuhnya, menuju suatu tempat di mana mereka bisa menikmati kedamaian utuh yang bukan merupakan cahaya maupun kegelapan. Imajinasi terlarang bahwa kekuatan penciptaan tanpa batas milik Batu Dunia mungkin bisa menciptakan tempat perlindungan baru bagi mereka sendiri, terhindar dari mata Surga dan Neraka, perlahan-lahan muncul di antara jiwa-jiwa yang lelah.
Roda gigi raksasa Konflik Abadi masih berputar sambil mengeluarkan suara retakan yang mengerikan, tetapi di dalamnya, tunas pemberontakan yang sangat kecil namun tidak bisa ditarik kembali perlahan tumbuh dalam diam. Jiwa-jiwa yang telah lelah dengan perang tanpa akhir kini menolak warisan kebencian yang ditinggalkan oleh Anu dan Tathamet, berdiri di ambang keputusan berbahaya untuk merintis takdir baru mereka sendiri.
Dokumen Referensi
Video Resmi Blizzard: Book of Lorath — Creation
Kronik Resmi Blizzard: Sanctuary dan Perang Dosa
Buku Panduan Resmi Diablo I: Sejarah Horadrim dan Sanctuary
Pengaturan Resmi Blizzard: Asal-usul Sanctuary dan Dunia Roh
komentar 1
태초의 이야기가 이렇게 장엄하게 읽히니 새롭네요. 아누와 타타메트가 서로를 찢어발기며 우주를 만든 순간은 언제 봐도 참 강렬한 것 같아요. ⚔️ 다음 화에서 펼쳐질 이야기도 기다리고 있을게요!